Selasa, 09 Oktober 2012

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK N DAN P TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum Frutescens L)


PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK N DAN P TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum Frutescens L)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cabairawit ( Capsicum frutescens L ) termasuk sayuran buah dan merupakan bahan yang dibutuhkan sehari- hari pada setiap rumah tangga sebagai bumbu dapur. Rasanya pedas dan banyak mengandung vitamin C. Cabai rawit juga banyak digunakan untuk industri makanan kaleng, saus dan industri obat- obatan.
Disamping sebagai konsumsi dalam negeri, cabe juga merupakan komoditi eksport yang tinggi nilainya. Untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi, banyak faktor-faktor yang harus diperhatikan, salah satu diantaranya adalah tersedianya unsur- unsur hara di dalam tanah, baik unsur hara makro maupun mikro. Kebutuhan tanaman akan unsur hara dapat dipenuhi dengan pemupukan, dimana pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah hingga pertumbuhan tanaman lebih baik.
Unsur hara terpenting yang harus ditambahkan ke dalam tanah dapat berbentuk pupuk adalah unsur hara N, P dan K. Ini disebabkan karena selain ke tiga unsur ini dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, juga ketersediannya dalam tanah dalam jumlah yang terbatas. Selain unsur hara esensial N, P dan K fungsinya tidak dapat digantikan dengan unsur hara yang lain. Apabila salah satu unsur tersebut tidak tersedia, maka pertumbuhan tanaman, baik fase vegetatif maupun fase generatif bisa jadi terbatas.
Pemupukan yang efektif membutuhkan persyaratan kwantitatif yang memiliki beberapa hal seperti waktu pemupukan dan penempatan pupuk dengan tepat, sehingga unsur hara yang diberikan pada tanaman dapat di serap dan digunakan oleh tanaman untuk meningkatkan kualitas produksi. Sunaryono ( 1984 ) menganjurkan agar pemupukan pada tanaman cabai rawit diberikan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/ tanaman atau 15 ton/ha sebelum bertanam. Dan pupuk buatan sebanyak 90 kg N, 92 kg P2O5, 46 kg K2O per hektar. Sedang di Sumatera Utara dianjurkan dengan dosis 200 kg urea, 200 kg TSP dan 100 kg KCl¬ per hektar ( Anonimous 1983/ 1984 ).
Perhatian para ahli terhadap efisiensi pemupukan nitrogen semakin bertambah, sehubungan dengan polusi lingkungan dan harga pupuk yang semakin meningkat. Jika diperoleh efisiensi pemupukan yang tinggi, maka semakin sedikit pupuk yang tercuci. Hara nitrogen dalam bentuk nitrat di dalam tanah mudah tercuci. Peran unsur hara nitrogen pada tanaman adalah untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun menjadi lebih lebar dan lebih hijau serta meningkatkan kadar protein pada tanaman. Sedang unsur hara P adalah mempercepat pertumbuhan akar, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa serta dapat mempercepat pertumbuhan dan pemasakan buah. Sesuai dengan latar belakang di atas, maka penulis mencoba meneliti kemungkinan adanya peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman cabai dengan pemberian pupuk N dan P.
1.2. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dosis pupuk N dan dosis pupuk P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit..
1.3. Hipotesis Penelitian
1.    Adanya pengaruh dosis pupuk N terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
2.    Adanya pengaruh dosis pupuk P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
3.    Adanya interaksi antara pupuk N dan pupuk P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan dalam pengembangan pembudidayaan untuk peningkatan produksi tanaman cabai rawit.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani Tanaman Cabai Rawit
Tanaman cabai rawit ( Capsicum frutescens L) mempunyai batang yang bercabang banyak, daunnya berbentuk bulat telur yang ujungnya meruncing dengan ukuran yang bermacam-macam . Buahnya berbentuk bulat panjang dan bijinya banyak, bunganya tunggal menunduk, mahkota bunganya berwarna putih, ujung buah meruncing dan rasa daging buah pedas. Adapun systematika tanaman cabai rawit adalah sebagai berikut ( Moenarmi, 1981 )
Divisio : Spermatophyta
Klass : Dicotiledonae
Ordo : Polemoniales
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicun
Species : Capsicum frutescens L
2.2. Syarat tumbuh
Cabai rawit menghendaki iklim kering, tanah tidak becek dan membutuhkan cahaya matahari yang cukup ( tempat terbuka ). Tanaman Cabai tidak tahan terhadap hujan deras pada waktu berbunga, karena bunga mudah gugur. Tanaman Cabai rawit dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0,5 – 1250 m Di atas permukaan laut, curah hujan yang dibutuhkan 1500 – 2000 mm per tahun dengan kelembaban udara 80% , ketinggian optimal 300 – 600 m di atas permukaan laut.
Tanaman Cabai tidak nemerlukan struktur tanah yang khusus tetapi tanah yang banyak mengandung bahan organik, baik jenis tanah liat atau berpasir sangat baik untuk pertunbuhan tanaman
2.3. Peranan pupuk N
Nitrogen dibutuhkan untuk pertumbuhan dan produksi tanaman, memegang peranan penting dalam perkembangan dan fungsi – fungsi protolasma dan sebagai bahan dasar dalam penyusunan semua protein .Nitrogen umumnya diserap tanaman dalam bentuk ion ammonium atau ion nitrat .
Urea adalah bentuk senyawa nitrogen organik yang palimg sederhana dan kandungan unsur haranya 45 – 46% N serta sifat – sifatnya :
a.    Berbenruk kristal berwarna putih, butir – butir bulat
b.    Higroskopis pada kelembaban udara
c.     Mudah larut dalam air
2.4. Peranan pupuk P
Unsur hara P merupakan penyusun sel hidup . Hal ini berhubungan dengan senyawa senyawa structural asam nukleat dan transfor energi . Unsur P sangat berfungsi bagi tanaman karena unsur ini dapat membantu pembelahan sel, mempercepat pembungaan dan pembuahan, mempercepat pematangan buah, nerangsang perkembangan akar, memperkuat batang dan cabang. Defenisi fosfor pada tanaman ditandai dengan gejala sebagai berikut :
a.    Pertumbuhan kerdil
b.    Daun berwarna hijau pucat, ungu atau merah tua terutama pada ujung dan tepi Daun
c.     Beberapa daun tanaman berwarna hijau tua kebiruan, terutama bila nitrogen tidak ada sama sekali
d.    Tanaman terhambat untuk tua, masih terlihat hijau
e.    Meninggi dan kurus
f.     Buah tidak berbentuk atau tunbuh normal
g.    Proses pembuahan terhambat dan produksi rendah



















BAB III
BAHAN DAN METODA PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Paranginan Utara Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan
3.2  Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benuh cabai rawit, kompos, pupuk urea, TSP, KCL, insektisida comfidor, fungisida antracol, wendry.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, garu, pompa, kayu, gembor, tali plastik dan alat – alat tulis
3.2. Metoda penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor yaitu Faktor pupuk nitrogen terdiri dari empat tahap yaitu :
N0 : 0 Kg Urea / Ha
N1 : 100 Kg Urea / Ha
N2 : 200 Kg Urea / Ha
N3 : 300 Kg Urea / Ha
Faktor pupuk fospat terdiri dari tiga taraf yaitu :
P0 : 0 Kg TSP / Ha
P1 : 150 Kg TSP / Ha
P2 : 300 Kg TSP / Ha
Kombinasi perlakuan ada 12 yaitu :
N0P0 N1P0 N2P0 N3P0
N0P1 N1P1 N2P1 N3P1
N0P2 N1P2 N2P2 N3P2
Luas petak : 2 m x 3 m
Jarak antar petak : 50 Cm
Jarak antar blok : 75 Cm
Jumlah tanaman sample : 4 tanaman / petak
Jarak tanaman : 50 Cm x 60 Cm

1 komentar: