Kamis, 16 Mei 2013

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT



BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mamitius dan Amsterdam lalu ditanam di kebun Raya Bogor.Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia). Bididaya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha (Wiharni,1990).

Pada tahun 1919 mengekspor minyak sawit sebesar 576 ton dan pada tahun 1923 mengekspor minyak inti sawit sebesar 850 ton. Pada masa pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit maju pesat sampai bisa menggeser dominasi ekspor Negara Afrika waktu itu. Memasuki masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawitpun di Indonesia hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948 / 1949, pada hal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit.Pada tahun 1957, setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pemerintah mengambil alih perkebunan (dengan alasan politik dan keamanan). Untuk mengamankan jalannya produksi, pemerintah meletakkan perwira militer di setiap jenjang manajemen perkebunan. Pemerintah juga membentuk BUMIL (Buruh Militer) yang merupakan kerja sama antara buruh perkebunan dan militer. Perubahan manajemen dalam perkebunan dan kondisi sosial politik serta keamanan dalam negeri yang tidak kondusif, menyebabkan produksi kelapa sawit menurun dan posisi Indonesia sebagai pemasok minyak sawit dunia terbesar tergeser oleh Malaysia(Wiharni,1990).

Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sektor penghasil devisa Negara. Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Sampai pada tahun 1980, luas lahan mencapai 294.560 Ha dengan produksi CPO (Crude Palm Oil) sebesar 721.172 ton. Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Hal ini didukung oleh kebijakan Pemerintah yang melaksanakan program Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN) (Wiharni,1990).

Tujuan Praktikum
1.      Untuk mengetahui perubahan tinggi kecambah tiap minggu.
2.      Untuk mengetahui perbedaan presentase tinggi kecambah.
3.      Untuk mengetahui perbedaan menggunakan perlakuan dan tidak menggunakan perlakuan.
Kegunaan Praktikum
Adapun kegunaan praktikum yang telah dilakukan adalah dalah satu syarat untuk mengikuti ujian praktikal test dengan membuat  hasil dalam bentuk laporan atau makalah yang nantinya akan diserahkan sebagai dyarat utama mengikuti  ujian praktikal test yang dilaksanakan tidak lama lagi.
BAB II .TINJAUAN TEORITIS
                                     Klasifikasi botani kelapa Sawit
Divisio                                    : Tracheophyta
Subdivisio                              : Pteropsida
Kelas                                      : Angiospermae
Sub kelas                                : Monocotiledonae
Ordo                                       : Cocoideae
Famili                                     : Palmae
Genus                                    : Elais
Spesies                                   : Elais guinensis Jacq
Varietas                                  : Dura, Psifera, Tenera
             Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang pesat pada tahun 1969. Pada saat itu luas areal perkebunan kelapa sawit adalah 119.500 hektar dengan total produksi minyak sawit mentah(CPO dan KPO) 189 .000 ton per tahun.pada tahun 1988 luas areal perkebunan kelapa sawit bertambah menjadi 862.859 hektar dengan produksi CPO sebanyak 1.713.000 ton,pada tahun 1995 luas nya mencapai 2.025 juta hektar,terdiri dari 656 ribu hektar perkebunan rakyat (33%),404 ribu hektar perkebunan negara/PTPN(20%),dan 962 ribu hektar perkebunan besar swasta Nasional(47%),dengan total produksi minyak kelapa sawit 4.480.000 ton.angka ini di perkirakan akan terus meningkat seiring semakin banyak nya investor yang menanamkan modal secara besar-besaran pada perkebunan kelapa sawit di Riau, Jambi, Bengkulu, Kalimantan,dan kawasan tengah maupun Timur Indonesia.
Diperkirakan produksi minyak kelapa sawit akan mencapai 9,9 juta pada tahun 2005.(Andi,2000)
Botani Kelapa Sawit
            Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa(Wiharni,2001)
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan (Wiharni,2001)
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya(Wiharni,2001).
Buah terdiri dari tiga lapisan:
  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung intiInti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).(Wiharni,1990)
Syarat Tumbuh
      Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.(Wiharni,1990)
Zat Pengatur Tumbuh
GIBBERELLIN (Gibgro)
Gibberellin adalah jenis hormon tumbuh yang mula-mula diketemukan di Jepang oleh Kurosawa pada tahun 1926. Penelitian lanjutan dilakukan oleh Yabuta dan Hayashi (1939). Ia dapat mengisolasi crystalline material yang dapat menstimulasi pertumbuhan pada akar kecambah. Dalam tahun 1951, Stodola dkk melakukan penelitian terhadap substansi ini dan menghasilkan "Gibberelline A" dan "Gibberelline X". adapun hasil penelitian lanjutannya menghasilkan GA1, GA2,danGA3.Pada saat yang sama dilakukan pula penelitian di Laboratory of the Imperial Chemical Industries di Inggris sehingga menghasilkan GA3 (Cross, 1954 dalam Weaver 1972).
Nama Gibberellin acid untuk zat tersebut telah disepakati oleh kelompok peneliti itu sehingga populer sampai sekarang.Golongan ini merupakan golongan yang secara struktur paling bermiripan, dan diberi nama dengan nomor urut penemuan atau pembuatannya. Senyawa pertama yang ditemukan memiliki efek fisiologi adalah GA3 (asam giberelat 3). GA3 merupakan substansi yang diketahui menyebabkan pertumbuhan membesar pada padi yang terserang fungi Gibberella fujikuroi.
GA3 ini merupakan  ZPT yang paling populer di masyarakat tani karena mudah ditemui di pasaran dengan harga yang cukup terjangkau seperti Agrogib, Biges, tigger, super gib dan Gibgro.



BAB III. BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu Praktikum
a.Tempat praktikum
SABTU, 29 OKTOBER 2011
Jl. Abdullah Lubis No. 26
b.waktu praktikum
Setiap hari sabtu pukul 08.00 WIB
Bahan dan Alat
a.Bahan
1.Bahan tanam berupa kecambah kelapa sawit
2. Polybag
3.Tanah
4.Zat pengatur tumbuh (Gibgron)
5.Pupuk  daun kemira
6. Air
B.Alat Praktikum
1.Cangkul
2.Ayakan
3.Ember
                                                                                                                                               7
METODA PRAKTIKUM
Metoda praktikum ada dua cara yaitu:
1. G adalah insial dari ZPT Gibgron Yang perlakuannyadengan perendaman.
G0 = Tanpa ada perlakuan
G1 = Direndam selama 12 jam
G2 = Direndam selama 24 jam
G3 = Direndam selama 36 jam
2. K adalah insial untuk control
K0 = Tanpa ada perlakuan
K1 = Direndam selama 12 jam
K2 = Direndam selama 24 jam
K3 = Direndam selama 36 jam
BAB IV.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Persiapan Lahan
Lokasi/areal untuk pelaksanaan pembibitan dengan pesyaratan : harus datar dan rata, dekat dengan sumber air, dan letaknya sedapat mungkin di tengah-tengah areal yang akan ditanami dan mudah diawasi. Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya tersedia springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan parit-parit drainase. Luas kompleks pembibitan harus sesuai dengan kebutuhan.
Persiapan Media Tanam
1.      Bibit kelapa sawit sebanyak 300 biji
2.      Babypolibag 300 lembar
3.      Tanah Top Soil
Perendaman Kecambah
Kecambah di rendam dengan beberapa perlakuan yaitu
1.    Kontrol, tanpa menggunakan ZPT di rendam semalaman dengan air
2.    Peradaman 12 jam menggunakan Gibgro
3.    Perendaman 24 jam menggunakan Gibbro
4.    Perendaman 36 jam menggunakan Gibgro
Penanaman Kecambah
Sebelum di tanam biji kelapa sawit terlebih dahulu direndam dengan empat perlakuan dimana satu tanpa perlakuan dan tiga diantranya direndam menggunakan gibro agar melalui masa dormansi pada biji. Setelah di rendam akan keluarlah radikula (pertumbuhan akar kearah bawah) dan plumula (pertumbuhan kearah atas).
Benih yang sudah berkecambah di deder dalam polybag kecil, kemudia diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.Ukuran polybag yng digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm (lay flat). Polybag diisi dengan 1,5 – 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase. Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 – 4 bulan dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit (nursery).
Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman.

Pemeliharaan
1) Penyiraman; kegiatan penyiraman di pembibitan utama dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Jumlah air yang diperlukan sekitar 9–18 liter per minggu untuk setiap bibit.
2) Pemupukan; untuk pemupukan dapat digunakan berupa pupuk tunggal atau pupuk majemuk (N,P,K dan Mg) dengan komposisi 15:15:6:4 atau 12:12:7:2.
3) Seleksi bibit; seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan pada waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah bibit berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12-14 bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri: a) bibit tumbuh meninggi dan kaku, b) bibit terkulai, c) anak daun tidak membelah sempurna, d) terkena penyakit, e) anak daun tidak sempurna.


                           
Pemberian Pupuk Daun
Pupuk daun yang diberikan pada tanaman kelapa sawit berupa kemari dengan perbandingan 2 : 4 : 6 yang di campurkan air dengan 100 ml dan pupuk ini di berikan ketika minngu ke – 6 saja pada polibag yang telah tumbuh daunnya. Unsur hara mikro pupuk daun kemira berupa
Parameter Yang Diamati
1.      Tinggi kecambah
2.      Presentase yang hidup
Hasil Pengamatan
MINGGU KE -5
NO
Control
12 JAM
24 JAM
36 JAM
1
2,2 cm
7 cm
7,1 cm
9 cm
2
4 cm
8 cm
6,5 cm
3 cm
3
2,5 cm
10 cm
4,7 cm
9 cm
4
3,4 cm
8 cm
7,3 cm
7 cm
5
4 cm
9 cm
6,5 cm
5,5 cm
6
3,5 cm
7 cm
5 cm
5 cm
7
2,5 cm
8 cm
5,5 cm
5 cm
8
3,1 cm
10,5 cm
7,5 cm
4,7 cm
9
3 cm
10 cm
6,7 cm
8,5 cm
10
3 cm
7 cm
4,4 cm
7 cm
Rata-rata
3,12 cm
8,45 cm
6,12 cm
3,67 cm

MINGGU KE - 6
NO
CONTROL
GoKo
GoK1
GoK2
GoK3
1
6,7 cm
6,5 cm
4,8 cm
5 cm
2
6,5 cm
5 cm
9 cm
6,3 cm
3
4,5 cm
6 cm
5,5 cm
5,5 cm
4
6,5 cm
7,5 cm
10,4 cm
4 cm
5
6 cm
7,5 cm
9,6 cm
6 cm
6
8,5 cm
5,5 cm
6,7 cm
5,7 cm
7
4,7 cm
7,2 cm
5 cm
4,5 cm
8
4,9 cm
5,5 cm
3,8 cm
6,7 cm
9
2,4 cm
7 cm
3,6 cm
4 cm
10
1,7 cm
6 cm
2,4 cm
3,5 cm
Rata-rata
5,24 cm
6,37 cm
6,08 cm
5,2 cm

NO
12 JAM
G1Ko
G1K1
G1K2
G1K3
1
9,5 cm
9,5 cm
17,4 cm
14,6 cm
2
10,5 cm
13,1 cm
14,4 cm
10,5 cm
3
7,8 cm
12 cm
14,5 cm
9,5 cm
4
20,2 cm
8,4 cm
12 cm
12,5 cm
5
9,5 cm
8,4 cm
12 cm
12,5 cm
6
16,8 cm
9 cm
9 cm
10,4 cm
7
10,3 cm
5,1 cm
12,5 cm
11,6 cm
8
4,1 cm
7,1 cm
10 cm
14 cm
9
6 cm
7 cm
7,5 cm
7,8 cm
10
7,4 cm
7 cm
4,3 cm
11 cm
Rata-rata
10,22 cm
8,37 cm
10,96 cm
11,34 cm

NO
24 JAM
G2Ko
G2K1
G2K2
G2K3
1
7,5 cm
10,5 cm
12,7 cm
4,4 cm
2
9,5 cm
10 cm
12,5 cm
14,5 cm
3
9 cm
7,5 cm
8 cm
6,5 cm
4
9,1 cm
5 cm
7 cm
5,5 cm
5
10,5 cm
9 cm
8,5 cm
5,5 cm
6
10 cm
18,5 cm
10 cm
9,2 cm
7
7 cm
9 cm
4,5 cm
12,1 cm
8
4,6 cm
6,5 cm
4,5 cm
4,2 cm
9
2,2 cm
3,5 cm
5 cm
3,5 cm
10
5 cm
6,2 cm
3,2 cm
2 cm
Rata-rata
7,44 cm
8,58 cm
7,59 cm
6,74 cm

NO
36 JAM
G3Ko
G3K1
G3K2
G3K3
1
11,7 cm
6 cm
7,5 cm
8,3 cm
2
14 cm
7 cm
13,4 cm
9,2 cm
3
4 cm
8,5 cm
16,5 cm
11,5 cm
4
4,1 cm
16,5 cm
13,5 cm
9,1 cm
5
13,7 cm
13,8 cm
16,5 cm
7,5 cm
6
6,5 cm
9,5 cm
6,9 cm
10,7 cm
7
11 cm
4,3 cm
8,2 cm
8,3 cm
8
5,5 cm
4,2 cm
7 cm
5,3 cm
9
10,8 cm
3,5 cm
4 cm
5,5 cm
10
11,5 cm
3,8 cm
4 cm
9,7 cm
Rata-rata
9,28 cm
7,71 cm
9,75 cm
8,51 cm

MINGGU KE – 7
NO
CONTROL
GoKo
GoK1
GoK2
GoK3
1
8,2 cm
10 cm
6,5 cm
7,5 cm
2
4,5 cm
10,1 cm
6 cm
7 cm
3
6,7 cm
6,9 cm
4 cm
7,5 cm
4
7,5 cm
8,8 cm
12 cm
7 cm
5
6,5 cm
7,5 cm
7,5 cm
3,5 cm
6
8,7 cm
10,5 cm
5,6 cm
6,5 cm
7
6,3 cm
7 cm
4,2 cm
3,5 cm
8
10 cm
6,6 cm
9,2 cm
6 cm
9
8,3 cm
8 cm
13,5 cm
9,5 cm
10
5,8 cm
6,7 cm
9 cm
6 cm
Rata-rata
7,25 cm
8,21 cm
7,75 cm
6,4 cm


NO
12 JAM
G1Ko
G1K1
G1K2
G1K3
1
11 cm
5,6 cm
12 cm
20 cm
2
13 cm
7,1 cm
8 cm
5,5 cm
3
10 cm
6 cm
7,3 cm
12,8 cm
4
21,5 cm
7,5 cm
2,7 cm
14,5 cm
5
17,3 cm
8,5 cm
10 cm
5 cm
6
5,5 cm
9,2 cm
17,5 cm
15 cm
7
10 cm
13 cm
12,5 cm
16 cm
8
5,3 cm
13 cm
14,5 cm
11,5 cm
9
9,1 cm
12 cm
15 cm
11,5 cm
10
6,5 cm
9,5 cm
13 cm
5 cm
Rata-rata
10,92 cm
9,14 cm
11,25 cm
11,6 8 cm

NO
24 JAM
G2Ko
G2K1
G2K2
G2K3
1
8 cm
9,5 cm
16,5 cm
6 cm
2
11 cm
5,5 cm
8 cm
17 cm
3
9 cm
10 cm
14,5 cm
7 cm
4
7,5 cm
9 cm
 7,5 cm
3 cm
5
5 cm
11 cm
2,5 cm
5,5 cm
6
12,5 cm
4 cm
6 cm
4 cm
7
8,5 cm
7 cm
5 cm
4,5 cm
8
11 cm
24,5 cm
6 cm
9,5 cm
9
12,5 cm
9,8 cm
5,5 cm
15 cm
10
7,5 cm
7,5 cm
10 cm
5 cm
Rata-rata
9,25 cm
9,78 cm
8,15 cm
7,65 cm

NO
36 JAM
G3Ko
G3K1
G3K2
G3K3
1
4 cm
10,5 cm
10 cm
8 cm
2
14,5 cm
6,5 cm
16 cm
3,5 cm
3
11 cm
2,5 cm
13,5 cm
10 cm
4
5,5 cm
14 cm
7 cm
13,5 cm
5
18,5 cm
3 cm
5 cm
6 cm
6
6,5 cm
19 cm
18,5 cm
11 cm
7
6 cm
9 cm
6 cm
11,5 cm
8
11 cm
7 cm
18,5 cm
10,5 cm
9
11,5 cm
6 cm
7,5 cm
8 cm
10
4 cm
3 cm
6,5 cm
8,2 cm
Rata-rata
9,25 cm
8,05 cm
10,85 cm
9,02 cm
Perhitungan
Dari tanaman yang telah ditanam selama ± 3 bulan di peroleh hasil

BAB V .PENUTUP
Kesimpulan
1. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada       tahun
1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mamitius dan Amsterdam lalu
ditanam di kebun Raya Bogor.
2. Dalam pembibitan kelapa sawit sangat  dipengaruhi oleh jenis varietas benih tersebut.
3. Benih ysng telsh dikecanbahkan harus dari sumber terpercaya.
4. Perendaman pada kecambah akan sangat mempengaruhi pertumbuhan kecambah tersebut.
5. Penyiraman dilakukan sian dan sore hari dan naunga menjaga agar suhu tetap optimal.
B.SARAN
Dalam penelitian ini dapat penulis sarankan sebagai berikut :
1.      Kepada masyarakat disarankan untuk memilih bibit yang baik dan unggul sebelum menanam. Karena bibit adalah hal yang paling menentukan tingginya hasil produksi nantinya. Sedangkan lingkungan dan pemeliharaan hanya faktor pendukung.
2.      Kepada seluruh masyarakat sebaiknya menggunakan minyak sawit karena mengandung
kolesterol yang rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kami rahmad dan hidayahnya sehingga Karya Ilmiah Remaja ini dapat diselesaikan. Karya Ilmiah Remaja ini diberi judul “ PEMBIBITAN TANAMAN KELAPA SAWIT ( Elais guinensis ).
Dalam kesempatan ini izinkanlah kami untuk mengucapkan terima kasih yang tidak terhinggga kepada pihak yang terkait dalam terbentuknya makalah ini, yang telah meluangkan waktu untuk membimbing kami dalam menyelesaikan makalah dan penelitian ini. Seiring dengan ini pula disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat  Bapak dosen pengasuh serta rekan Sekalian. Akhirnya dengan penuh kesadaran bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat kekurangan-kekurangan dari hasil penelitian ini. Namun harapan kami hendaknya LAPORAN ini dapat bermanfaat bagi kita semua serta dapat mencapai sasaran yang kita inginkan.Hasil penelitian ini hendaknya dapat menjadi bahan informasi atau penunjang bagi rekan- rekan untuk mengadakan penelitian selanjutnya.
Demikianlah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar